Life in Prison

Mengetahui- Mengerti- Memahami

Globalisasi Dan Multikulturalism 1 Desember , 2008

Filed under: Uncategorized — nixs @ 5:43 pm

Pendahuluan

Memasuki milenium ketiga ini kita disibukan dengan istilah globalisasi yang arus dan kekuatannya tidak dapat dibendung lagi. Kekuatan globalisasi sebagai pengalaman orang yang bangun pagi dan melihat segala sesuatu sudah berubah, melewati apa saja layaknya sebuah juggernout. Banyak hal yang kita anggap suatu kebenaran suatu waktu menghilang tanpa bekas. Para pakar mengakuinya bahwa sekarang perubahan kehidupan manusia terbawa oleh arus global. Masyarakat atau bangsa yang kurang siap akan terbawa oleh arus global. Globalisasi cukup intensif dibicarakan diberbagai negara, misalnya di Perancis globalisasi dikenal dengan kata mondialisation, sedangkan di Spayol dan Amerika Latin kata ini adalah globalizacion dan untuk Jerman meyebutnya dengan globalisierung (Materi kuliah disampaikan oleh Prof.Mardjono dalam perkuliahan KIK-UI ).

Globalisasi diibaratkan sebagai “pisau” yang bermata ganda sebagai kutukan dan berkah. Dikatakan sebagai berkah dikatakan menurut versi pejabat globalisasi menarik investor asing yang kemudian menjelma menjadi lapangan pekerjaan. Sebagai kutukan, globalisasi dikambinghitamkan oleh pemuka agama yang mengeluhkan merosotnya moral kaum muda setelah mengenal internet dan gaya hidup barat. (B.Hari Juliawan, Keretaku Tak Berhenti Lama).

Seluruh manusia hidup dimuka bumi ini dalam realiatas yang plural. Begitu juga pada masyarakat Indonesia yang majemuk (plural society). Masyarakat Indonesia memiliki corak Bhineka Tunggal Ika, bukan lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya, melainkan keanekaragaman kebudayaan yang berada dalam masyarakat Indonesia. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia dilihat memiliki suatu kebudayaan yang berlaku secara umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya sebagai mosaik. Seperti yang telah dikemukan oleh the fanding father bangsa Indonesia bahwa kebudayaan bangsa Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah. (Pasudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural).

Masyarakat yang plural merupakan “belati” bermata ganda dimana pluralitas sebagai rahmat dan sebagai kutukan. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, pemahaman pluralitas sebagai rahmat adalah keberanian untuk memerima perbedaan. Menerima perbedaan bukan hanya dengan kompetensi keterampilan, melainkan lebih banyak terkait dengan persepsi dan sikap sesuai dengan realitas kehidupan yang menyeluruh. Sedangkan pluralitas sebagai kutukan akan menimbulkan sikap penafian terhadap yang lain, baik individu ataupun kelompok, karena dianggap berbeda dengan dirinya, dan perbedaan dianggap menyimpang atau salah.

Penafian terhadap yang lain pada hakekatnya adalah pemaksaan keseragaman dan menghilangkan keunikan jati diri yang lain, baik individu atau komunitas. Modus relasi hegemonik berarti mengandaikan konstruksi sosial hierarkis, dan membangaun pengakuan bahwa seseorang atau kelompok lain unggul atas yang lain, serta mengajukan klaim yang melibihi hak-haknya dengan cara merampas hak-hak milik pihak lain. (disampaikan oleh Prof.Mardjono dalam perkuliahan KIK-UI ). Menurut Suparlan yang mengutip dari Fay, Jary dan J. Jary dalam acuan utama masyarakat yang multikultural adalah multikulturalisme, yakni sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individu ataupun secara kebudayaan. (Pasudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural).

Globalisasi

Bahasa globalisasi patut mendapatkan perhatian khusus. Terdapat dua macam perkembangan modalis di padukan dengan istilah globalisasi. Pertama, perkembangan teknologi dan kedua, perkembangan dalam pemusatan kekuasaan. (Peter Marcus, Memahami Bahasa Globalisasi). Globalisasi ini berarti terjadi pertemuan dan gesekan nilai-nilai budaya dan agama di seluruh dunia yang memanfaatkan jasa komunikasi, dan informasi hasil moderniasasi teknologi. Pertemuan dan gesekan ini akan menghasilkan kompetisi liar yang saling dipengaruhi dan mempengaruhi, saling bertentangan dan bertabrakan nilai-nilai yang berbeda yang akan menghasilkan kalah atau menang atau kerjasama yang menghasilkan sintesa dan analisis baru.

Beberapa pemikir memperdebatkan pandangan tentang globalisasi yang masing-masing berbeda satu sama lainnya. Menurut kaum skeptis, hal yang dibicarakan tentang globalisasi adalah omong kosong. Adapun manfaat, cobaan, dan kesengsaraan yang ditimbulkannya, ekonomi global tidak begitu berbeda dengan yang penah terjadi pada periode sebelumnya. Kaum ini berpandangan banyak negara yang memperoleh sedikit pendapatannya dari perdagangan luar negeri. Kaum skeptisme ini, cenderung dialiran kiri politik, sebab menurut mereka semua ini hanya mitos, pemerintah yang mengendalikan kehidupan ekonomi negara, dan kesejahteraanpun tetap utuh. Gagasan globalisasi merupakan ideologi yang disebarluaskan oleh para pendukung pasar bebas yang membongkar kesejahteraan dan mengurangi pengeluaran negara.

Selanjutnya adalah kelompok radikal bahwa globalisasi tidak hanya sangat riil, melainkan juga merupakan konsekuensi yang dirasakan dimanapun. Pasar global jauh lebih berkembang dan mengabaikan batas-batas negara. Banyak bangsa telah kehilangan daulatnya, dan para politisi telah kehilangan kemampuannya untuk mempengaruhi dunia. Kelompok kaum radikal ini masuk kedalam aliran kanan. Pasca perang dingin beberapa system baru menggugurkan hal yang mempersiapakan rangka kerja yang berbeda untuk hubungan internasional. Pasca perang dingin suasana dunia sangat berantakan, membingungkan dan tak terdefinisikan. Tetapi lebih dari itu kita berada dalam system internasional yang baru. System yang baru tersebut memiliki logika sendiri yang unik, berbagai peraturan, tekanan intensif, dan memiliki nama sendiri yaitu globalisasi.

Ini merupakan system internasional yang dominan yang menggantikan system perang dingin setelah runtuhnya tembok Berlin di Jerman. Maksud dari sebagai system internasional dalam perang dingin memiliki struktur kekuatan sendiri keseimbangan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Perang dingin memiliki trent tersendiri yaitu pertikaian antara kapitalisame dengan komunisme, antara blok barat dengan timur. Dari seluruh elmen yang berada dalam perang dingin tersebut mempengaruhi politik, perdagangan dan hubungan Negara diberbagai belahan dunia. (Thomas L.Freidman, Memahami Globalisasi).

Sedangkan globalisasi merupakan system internasional yang serupa dengan atribut unik dan berbeda, dan memiliki ciri yang istimewa integrasi. Globalisasi ini dihubungkan dengan satu kata jaringan (web). System globalisasi bersifat dinamis dan berkesinambungan. Maka dalam mendefinisikan globalisasi adalah integerasi yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dari pasar. Negara dan teknologi sampai pada tingkat yang tak pernah disangsikan sebelumnya dalam caranya yang memungkinkan setiap individu, perusahaan dan bangsa-bangsa untuk mencapai seluruh dunia yang lebih jauh, lebih cepat lebih murah dari yang pernah ada sebelumnya.

Sedangkan ide dibelakang globalisasi adalah kapitalisme pasar bebas, jika semakin kita biarkan maka kekuatan pasar akan berkuasa dan perekonomian kita bagi perdagangan bebas dan kompetisi akan semakin terbuka. Globalisasi berarti penyebaran kapitalisme pasar bebas keseluruh negara di dunia. Globalisasi memiliki peraturan perekonomian tersendiri. Peraturan itu bergulir sekitar pembukaan deregulasi, privatisasi perekonomian guna lebih kompetitif dan atraktif bagi investasi luar negeri. (Thomas L. Freidman, Memahami Globalisasi).

Kriteria ekonomi yang melekat pada arti globalisasi merupakan kelanjutan kriteria ekonomi yang melekat pada pembangunan (development). (Herry Priyono, Marginalisasi ala Neoliberal). Proses globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan paham kapitalisme. Maksudnya adalah kini peran pasar, investasi, dan proses produksi dari perusahaan-perusahaan transnasional telah terbuka dan mengglobal, yang kemudian dikuatkan oleh ideologi dan tata dunia perdagangan dibawah satu aturan yang ditetapkan oleh organisasi perdagangan bebas secara global.

Globalisasi muncul bersamaan dengan runtuhnya pembangunan di Asia Timur. Era globalisasi ini yang memiskinkan rakyat di dunia ketiga seolah-olah merupakan arah baru yang menjanjikan harapan kebajikan bagi umat manusia dan menjadi keharusan sejarah umat manusia dimasa depan. Globalisasi juga melahirkan kecemasan yang memperhatikan masalah kemiskinan dan marginalisasi rakyat, serta masalah keadilan sosial. (Mansour Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalsasi). Salah satu impact negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi bagi negara berkembang adalah marginalisasi sejumlah besar manusia dan bertambahnya angka kemiskinan. Proses marginalisasi (impoverty) makin terasa jika negara mengalami krisis keuangan. Industrialisasi pada negara berkembang hanya menguntungkan kaum tertentu dan memiskinkan rakyat banyak. Demikian pula, dengan degradasi lingkungan yang ditimbulkanpun semakin parah.

Faham globalisasi yang didasarkan pada pasar global, intinya sama dengan neoliberalisme yang didasarkan pada pokok-pokok sebagai berikut, liberaliasi perdagangan, liberalisasi investasi, privatisasi, pemotongan anggaran publik untuk sosial, potongan subsidi negara, devaluasi mata uang, upah buruh murah. Liberalisasi perdagangan berarti menghilangkan segala peraturan yang melindungi industri dan pasar domestik oleh negara. Logika neoliberal ekonomi negara akan berkembang jika diserahkan pada pasar. Liberalisasi memberikan kesempatan pada kapitalis untuk mengeruk keuntungan, dan penghapusan beban yang harus ditanggung oleh swasta. Hal ini memberikan ruang yang bebas dan terbuka terhadap perdagangan internasional dan investasi internasional Dan peran negara diambil alih oleh lembaga-lembaga keuangan internasional seperti, IMF, WTO, WB dan TNC/MNC. Liberasi investasi memberikan masuknya paham neoliberalism untuk memanam saham sebesar 100% untuk perusahan internasional, bebas bea masuk, tingkat suku bunga dan pajak rendah. Privatisasi penjualan perusahan-perusahaan negara dan pelayanan publik pada swasta (Materi kuliah disampaikan oleh Prof.Mardjono dalam perkuliahan KIK-UI ).

Urusan negara industri utara memandang pesimis terhadap globalisasi. Dimana masyarakat yang berkembang di selatan hanya berperan sedit atau tidak sama sekali. Pandangan ini juga menganggap bahwa globalisasi telah menghancurkan kebudayaan lokal, memperluas kesenjangan dunia, dan yang membuat kehidupan kaum miskin semakin terpuruk. Dan beberapa pihak mengatakan bahwa globalisasi menciptakan dunia terbelah antara pemenang dan pecundang. Hanya sedikit sekali yang maju menuju kemakmuran, sementara yang lain mengalami kehidupan yang penuh kesengsaraan dan keputusasaan.

Banyak data statistik yang memperlihatkan bahwa mereka yang miskin -seperlima dari penduduk dunia- pendapatannya merosot dari 2,3 sampai 1,4 % dari seluruh pendapatan dunia. Tetapi bagi negara yang maju malahan jumlah pendapatannya meningkat. Sedangkan pada Negara kurang berkembang, regulasi mengenai keselamatan dan lingkungan hidup cukup rendah atau sama sekali tidak ada. Dan orang mengatakan bahwa sekarang mirip dengan kampung global global village, tetapi lebih tepat dengan penjarahan global global pillage (Anthony Giddens, Runaway World). Dengan berlangsungnya proses globalisasi telah melahirkan apa yang disebut oleh Marshall McLuhan the global village.

Globalisasi dan dampaknya terbagi menjadi dua macam sisi, yaitu positif dan negatif. Sisi negatif atau ancaman dari globalisasi yaitu arus informasi dan komunikasi dimana semua orang dan semua umur dapat dengan bebas mengakses gambar-gambar porno yang tak bermanfaat tanpa ada batas. Dengan gencarnya iklan menyebabkan masyarakat menjadi berbudaya konsumtif dengan gaya hidup yang global sesuai dengan budaya barat. Sedangkan bagi faham kebebasan menjadikan anak remaja mendefinisikan kebebasan sama dengan kebebasan pada dunia sekuler, sehingga karena faham kebebasan itu nilai agama, norma dan budaya lokal terancam. Kebebasan tersebut adalah kebebasan yang menjurus pada kepuasan lahiriah pleasure, egoisme, dan hedonisme. Globalisasi menjadikan negara yang berkembang menjadi gelandangan dikampung sendiri dan penjarahan global sehingga melahirkan the village global. Dalam kampung global tersebut terjadilah ketidak adilan dan peristiwa dehumanisasi. Globalisasi melahirkan kebudayaan yang bersifat monoisme kebudayaan atau monokulturalisme dikarenakan imperialisme kebudayaan barat. (H.A.R. Tilaar, Multikulturalisme).

Globalisasi menyebabkan merebaknya kebudayaan “McDonald” makanan instan lainnya, dengan demikian melahirkan kebudayaan yang serba instan, budaya telenovela yang melahirkan pesimisme, kekerasan hedonisme. Dengan meminjam istilah dari Edward Said gejala tersebut merupakan “cultur imprelism” baru menggantikan imprealisme klasik. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya). Dampak yang positif dari globalisasi adalah berkembangnya teknologi yang mempermudah urusan manusia. Dengan media informasi menjadikan kita dapat melihat berbagai peristiwa diberbagai belahan dunia. Tiupan globalisasi, perpaduan dengan teknologi informasi melahirkan kebudayaaan dunia maya cyber cultur. Kemajuan teknologi informasi telah membentuk ruang cyber yang maha luas, suatu universitas baru, yaitu universe yang dibangun melalui komputer dan jaringan komunikasi. Ruang cyber tersebut merupakan lalulintas ilmu pengetahuan, gudang rahasia, dan berbagai pertunjukan suara dan kecepatan musik yang dipancarkan dengan kecepatan cahaya elektronik. Unsur positif dari globalisasi telah melahirkan LSM dan NGO sebagai gerakan dalam rangka melindungi masyarakat lokal terhadap serbuan globalisasi. Gerakan LSM menggelorakan identitas lokal, budaya lokal, perlindungan terhadap rakyat kecil, dan pandangan yang kritis terhadap negara dengan birokrasinya.  

Multikulturalisme

Pengertian multikulturalisme diberikan oleh para ahli sangat beragam, Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan yang pluralis dan multikultural yang ada dalam kehidupan masyarakat. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya). Multikulturalisme secara etimologis marak digunakan pada tahun 1950 di Kanada. Menurut longer oxford directionary istilah “multiculturalme” merupakan deviasi kata multicultural. Ini menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat multicultural dan multilingual. (Muhaemin el-Ma’hadi, Multikulturalisme dan Pendidikan Multikulturalisme).

Multikulturalisme ternyata bukanlah pengertian yang mudah. Dimana mengandung dua pengertian yang kompleks, yaitu “multi” yang berarti plural dan “kulturalisme” berisi tentang kultur atau budaya. Istilah plural mengandung arti yang berjenis-jenis, karena pluralisme bukan sekedar pengakuan akan adanya hal yang berjenis-jenis tetapi pengakuan tersebut memiliki implikasi politis, sosial, ekonomi dan budaya. Dalam pengertian tradisonal tentang multikulturalisme memiliki dua ciri utama; pertama, kebutuhan terhadap pengakuan the need of recognition. Kedua, legitimasi keragaman budaya atau pluralisme budaya.

Dalam gelombang pertama multikulturalisme memiliki esensi terhadap perjuangan kelakuan budaya yang berbeda the other. Filsafat multikulturalisme tidak dapat lepas dari dua filosof kontemporer yakni, John Rawls dari Harvard University dan Charles Taylor dari McGill University. Rawls adalah penganut liberalisme terutama dalam bidang etika dan Taylor dalam filsafat budaya dan politik. Rawls mengemukakan teorinya dalam bukunya A Theory Justice, yang berusaha menghidupkan kembali “social contrac” dan melanjutkan kategori imperatif Kant, serta mengemukakan pemikiran alternative dari utilitarianisme.

Masyarakat yang adil bukanlah hanya menjamin “the greatest good for the greates number” yang terkenal dengan prinsip demokrasi. Filsafat Rawls menekankan arti pada “self interest” dan aspirasi pengenal dari seseorang. Manusia dilahirkan tanpa mengetahui akan sifat-sifatnya, posisi sosialnya, dan keyakinan moralnya, maka manusia tidak mengetahui posisi memaksimalkan kemampuannya. Maka Rawls mengemukakan dua prinsip; pertama, setiap manusia harus memiliki maksimum kebebasan individual dibandingkan orang lain. Kedua, setiap ketidaksamaan ekonomi haruslah memberikan keuntungan kemungkinan bagi yang tidak memperoleh keberuntungan. Menurutnya institusional yang menjamin kedua prinsip tersebut adalah demokrasi konstitusional.

Dalam bukunya Taylor membahas tentang The Politics of Recognition, berisi tentang pandangan multikulturalisme mulai berkembang dengan pesat, bukan hanya dalam ilmu politik tetapi juga dalam bidang filsafat dan kebudayaan. Jurgen Habermas menanggapi bahwa pelindungan yang sama dibawah hukum saja belum cukup dalam demokrasi konstitusional. Habermas menganjurkan agar supaya warga negara dipersatukan oleh “mutual respect” terhadap hak orang lain demokerasi konstitusioanal juga memberikan kepada kebudayaan minoritas, memperoleh hak yang sama untuk bersama-sama dengan kebudayaan mayoritas. (H.A.R. Tilaar, Multikulturalisme).

Walaupun multikulturalisme telah digunakan oleh para pendiri bangsa dalam rangka mendisain kebudayaan bangsa Indonesia, tetapi bagi orang Indonesia multikulturalisme adalah konsep yang asing. Konsep multikulturalisme tidaklah sama dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena konsep multikulturalisme menekankan keanekaragaman dan kesederajatan. Multikulturalisme harus mau mengulas berbagai permasalahan yang mengandung ideologi, politik, demokrasi, penegakan hukum, keadialan, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral dan peningkatan mutu produktivitas. (Parsudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural).

Memang dalam kerangka konsep masyarakat multikultural dan multikulturalisme secara subtantif tidaklah terlalu baru di Indonesia dikarenakan jejaknya dapat ditemukan di Indonesia, dengan prinsip negara ber-Bhineka Tunggal Ika, yang mencerminkan bahwa Indonesia adalah masyarakat multikultural tetapi masih terintregrasi oleh persatuan. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya).   Multikulturalisme bukanlah sebuah wacana, melainkan sebuah ideologi yang harus diperjuangkan karena dibutuhkan sebagai etika tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Multikulturalisme sebagai ideologi tidaklah berdiri sendiri ataupun terpisah dari ideologi-ideologi lainnya. Multikulturalisme memerlukan konsep bangunan untuk dijadikan acuan guna memahami dan mengembangluaskannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk memahami multikulturalisme, diperlukan landasan pengetahuan berupa konsep-konsep yang relevan dan mendukung fungsi multikulturalisme dalam kehidupan. Akar dari multikulturalisme adalah kebudayaan. Kebudayaan yang dimasudkan disini adalah konsep kebudayaan yang tidak terjadi pertentangan oleh para ahli, dikarenakan multikulturalisme merupakan sebuah alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu kebudayaan harus dilihat dari perfektif fungsinya bagi manusia. (Parsudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural).

Dengan pengunaan istilah dan praktek dari multikulturalisme dapat dibedakan lima jenis multikulturalisme, yaitu :

  1. “Multikulturalisme asosianis” yang mengacu pada masyarakat dimana kelompok berbagai kultur menjalankan hidup secara otonom dan menjalankan interaksi minimal satu sama lain. Contohnya adalah masyarakat pada sistem “millet”, mereka menerima keragaman tetapi mereka mempertahankan kebudayaan mereka secara terpisah dari masyarakat lainnya.
  2. “Multikultualisme okomodatif” yakni masyarakat plural yang memiliki kultur dominan, yang membuat penyesuaian, mengakomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur minoritas. Masyarakat multikultural akomodatif merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum dan kekuatan sensitif secara kultural, memberikan kesempatan kepada kaum minoritas untuk mengembangkan kebudayaannya dan minoritas tidak menentang kultur yang dominan. Multikultural ini dapat ditemukan di Inggris, Perancis dan beberapa negara Eropa yang lain.
  3. “Multikultural otomatis” masyarakat yang plural dimana kelompok kultur yang utama berusaha mewujudkan kesetaraan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik secara kolektif dan dapat diterima. Contoh dari multikultural ini adalah masyarakat muslim yang berada di Eropa yang menginginkan anaknya untuk memperoleh pendidikan yang setara dan pendidikan anaknya sesuai dengan kebudayaannya.
  4. “Multikulturalisme kritikal interaktif” masyarakat yang plural dimana kelompok kultur tidak terlalu concern dalam kehidupan kultur otonom; tetapi lebih menuntut penciptaan kultur kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perfektif distingtif mereka. Multikultural ini, berlaku di Amerika Serikat dan Inggris perjuangan kulit hitam dalam menuntut kemerdekaan.
  5. “Multikultural kosmopolitan”, yang berusaha menghapuskan kultur sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat dimana individu tidak lagi terikat dan committed kepada budaya tertentu. Ia secara bebas terlibat dengan eksperimen-eksperimen interkultural dan sekaligus mengembangkan kultur masing-masing. Para pendukung multikultural ini adalah para intelektual diasporik dan kelompok liberal yang memiliki kecenderungan posmodernism dan memandang kebudayaan sebagai resauorces yang dapat mereka pilih dan ambil secara bebas. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya).

Multikulturalisme juga dapat berkembang menjadi hiper-multi-kulturalisme. Steve Fuller mengemukakan bentuk hipermultikulturalisme yang perlu dihindari adalah sebagai berikut :

  1. Menganggap kebudayaan sendiri yang lebih baik. Pengakuan terhadap kebudayaan sendiri mengarahkan kecintaan pada diri sendiri atau narasisme kebudayaan, jika berlebihan dapat menjadikan kolonialisasi.
  2. Pertentangan antara budaya barat dengan sisa-Barat. Pandangan ini yang dikenal dengan Eropa Sentris dalam melihat kebudayaan lain.
  3. Pengakuan terhadap berjenis-jenis budaya. Pluralisme budaya penghargaan terhadap budaya ditangapi dikarenakan eksotis, menarik perhatian. Dan kebudayaan yang lain dilihat bukan karena eksotisnya.
  4. Penelitian budaya suatu entitas yang homogen dikuasai oleh laki-laki dan bias gender perempuan.
  5. Mencari “indigeneus culture” Pemujaan terhadap indigeneus culture hal yang berlebihan dan kerjasama internasional mengandung unsur kebudayaan lain dapat diadopsi sesuai dengan lingkungan kebudayan yang berbeda.
  6. Penduduk asli yang berbicara tentang kebudayaannya. Orang asing tidak berwewenang mempelajari kebudayaan setempat.

Dalam multikulturalisme global masih berpegang pada doktrin asimilasi yang satu arah dan logika kebersamaan. Hal ini menjadi tantangan besar terhadap studi multikulturlisme yang isinya menggali lebih jauh lagi masalah identitas dan perbedaan, juga dikemukakan tantangan multikultuiralisme, pertama adalah hegemoni barat dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan ilmu pengetahuan. Negara yang berkembang mengambil langkah-langkah seperlunya untuk mengatasi sehingga sama dengan dunia barat. Kedua, esensialisasi budaya. Multikulturalisme berusaha untuk mencari esensi budaya tanpa jatuh dalam pandangan xenophobia dan ennosentrisme. Multikulturalisme melahirkan tribalisme sehingga merugikan komunitas global. Ketiga adalah proses globalisasi yang berupa monokulturalisme karena gelombang dasyat globalisasi menggiling dan menghancurkan kehidupan bersama budaya tradisional. Masyarakat akan tersapu bersih dan kehilangan akar budayanya sehingga kehilangan akar berpijak terkena arus globalisasi.

PENUTUP

Globalisasi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat majemuk Indonesia yang apabila tidak di batasi akan merusak wacana bangsa Indonesia (NKRI). Menurut Prof Mardjono globalisasi ini mempunyai dampak yang sangat signifikan untuk masyarakat Indonesia yang multikultural. Sependapat dengan Parsudi Suparlan, 2004, yang berkeyakinan bahwa dalam alam demokrasi yang menuju globalisasi sekarang ini kita harus membangun masyarakat Indonesia dari masyarakat majemuk plural society menjadi masyarakat multikultural. Kesadaran ini kiranya sangat perlu guna mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia dari dampak negative globalisasi, karena tidak dapat dipungkiri globalisasi adalah suatu kekuatan yang akan membawa perubahan besar.

Globalisasi oleh banyak kelompok masyarakat juga dianggap sebagai suatu kekuatan yang menggilas segala sesuatu yang ada dijalannya (suatu juggernaut). Kekuatan ini membawa perubahan sosial besar yang menimbulkan ketidakpastian ekonomi dan kultural dunia yang mengakibatkan terjadinya global capitalism yang dikendalikan dan dimanipulasi oleh perusahaan multinasional (MNC) atau transnasional(TNC) dan mendorong terjadinya perubahan sosial yang sangat besar terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang masih mementingkan budayanya sendiri-sendiri bukan sebagai satu bangsa.

Dalam memahami masyarakat majemuk maka kita juga harus memahami arti negara nasion. Legitimasi Negara nasion Nation-State adalah memberikan kemampuan pada negara untuk menciptakan keamanan dan kesejahteraan security and welfare kepada penduduknya. Dalam konsep negara nasion ini  kita harus mempunya ideologi kita adalah orang Indonesia, bukan orang Sumatra atau jawa atau yang lainnya sehingga kita tidak berpikir suku bangsa lagi tetapi merupakan satu bangsa yang ahirnya menciptakan masyarakat Indonesia yang menekankan pada satu keatuan bangsa dengan berbagai macam kebudayaan masyarakat multikultural.

 

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s